Jumat, 15 Desember 2017

Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah



RISALAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH: PEMBELAAN DARI PESANTREN

            Temuan menarik dari relasi penuh ketegangan antara ulama dari sayap pesantren dengan kalangan modernis islam di Indonesia pada saat itu adalah aanya kontribusi cukup besar dari seorang Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari. Sebagai tokoh senior dan ddikenal cukup memiliki kapasitas intelektual di bidang ke-Islam-an, tentu saja ia memiliki tanggung jawab intelektual untuk membangun basis legitimasi atas orientasi keagamaan umat islam.
            Melalui karya-karyanya, Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memulai rintisan pengembangan sebuah madzhab pemikiran (school of thought)yang kemudian diintrodusir dan dijadikan referensi komunitas Islam yang berakar pada tradisi pesantren. Tulisan-tulisan Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari merupakan karya ilmiah yang dapat dianggap mewakili tradisi keilmuan pesantren. Dalam karya-karyanya Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memperlihatkan konseistensinya terhadap bangunan epistemologi pemikiran Islam dalam tradisi ulama pesantren. Bangunan epistemologi dimaksud berakar pada pemikiran Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah yang selalu berusaha mencari jalan tengah antara ekstrem naqli (dogmatis-tekstualis) di satu sisi yang lain. Demikian halnya penerimaan keabsahan empat madzhab dalam fiqh (hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) yang memiliki spektrum berbeda-beda itu semakin melengkapi watak inklusivisme pemikirannya.
            Risalah Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah dan kitab-kitab lain karya Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, lebih merupakan ekspentasi tentang paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah berikut argumentasi-argumentasi tentang keabsahan pemahaman tersebut. Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari menggunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil dan hadizt-hadizt sebagai penjelasan argumentasi-arguentasinya. Secara sekilas, pandangan Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah mencerminkan corak metodologi konvensional yang digunakan oleh para teolog (mutakallimin) Muslim pada era klasik. Corak metodologi yang dimaksud bercirikan hal-hal sebagai berikut menurut identifikasi yang dilakukan Fazlurrahman : (1) bertujuan menetapkan akidaah “aliran yang selamat” (al-firqah an-najiyah) melawan aliran sesat; (2) menjelaskan perbedaan di antara berbagai aliran; (3) menjelaskan pendapat orang-orang Islam dan perbedaan di antara mereka yang shalat; (4) menyajikan akidah berbagai aliran kaum muslimin dan orang-orang musyrik; (5) mengikuti kaidah-kaidah golongan salaf secara konsisten; mengutamakan at-tiba’ (kepengikutan terhadap kaum terdahulu) tanpa pengembangan (al-ibda’); dan (6) menghimpun kandungan buku-buku klasik yang berserakan. Namun jika dianalissis lebih dalam, pandangan teologi Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari melampaui identifikasi tersebut.
            Melalui karya-karyanya  Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memberikan argumentasi tekstual dan rasional mengenai kebenaran akidah Ahl-Sunnah wa al-Jama’ah, namun pada bagian lain juga menyinggung koridor perbedaan (majal al-ikhtilaf) yang dimunginkan dalam bingkai akidah yang diklaim benar tersebut. Beliau juga berusaha mengidentifikasi aliran-aliran yang dinilai sesat, ahli bid’ah dan mereka yang tergelincir pada kefasikan,kekufuran dan kemusyrikan. Pendapat-pendapat Beliau juga seringkali merujuk kepada pemikiran dan “sunnah” generasi yang beliau menyebutnya salafuna al-shalih (generasi pendahulu kita yang salih). Namun kepengikutannya tidak bersifat serta merta atau absolut, tanpa pengembangan (ibda’). Jika ibda berarti keluar dari metodologi yang terdahulu tanpa terikat sedikitpun dengan pokok persoalannya, maka ibtida’ mengandaikan pengembangan dan pembaruan landaan metodologi yang terdahulu; ibda’ berarti memutuskan hubungan dengan masalalu tanpa kesinambungan, sedangan ibtida’ berkesinambungan tanpa keterputusan.
Demikianlah Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari membangun pandangannya tentang Ahl-Sunnah wa al-Jama’ah. Karyanya Risalah Ahl-Sunnah wa al-Jama’ah tidak hanya menyajikan tema-tema klasik yang menggambarkan struktur keilmuan kalam yang biasa dipakai oleh para mutakallimin era klasik, tetapi juga mulai memasukkan tema-tema historis yang bersifat lokal dan sangat partiklar. Dalam konteks ini Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari melalui karyanya tersebut “menghadirkan citra dirinya sebagai Kyai pesantren Jawa yang berupaya melakukan sintesis antara tradisi lokal dengan berbagai varian di dalmnya dan elemen-elemen islam. Bagi Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, sintesis itu adalah satu kebutuhan, mengingat “prinsip-prinsip islam tidaklah bertentangan dengan praktek-praktek lokal sepanjang perpaduannya memiliki landasan dan tujuan religius”.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad Muhibbin Zuhri, 2010. Pemikiran KH. M. HASYIM ASY’ARI tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Surabaya: Khalista
mutiaizzatun27 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar