RISALAH
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH: PEMBELAAN DARI PESANTREN
Temuan
menarik dari relasi penuh ketegangan antara ulama dari sayap pesantren dengan
kalangan modernis islam di Indonesia pada saat itu adalah aanya kontribusi
cukup besar dari seorang Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari. Sebagai tokoh
senior dan ddikenal cukup memiliki kapasitas intelektual di bidang ke-Islam-an,
tentu saja ia memiliki tanggung jawab intelektual untuk membangun basis
legitimasi atas orientasi keagamaan umat islam.
Melalui karya-karyanya, Hadratus Syaikh Kyai Hasyim
Asy’ari memulai rintisan pengembangan sebuah madzhab pemikiran (school of
thought)yang kemudian diintrodusir dan dijadikan referensi komunitas Islam yang
berakar pada tradisi pesantren. Tulisan-tulisan Hadratus Syaikh Kyai Hasyim
Asy’ari merupakan karya ilmiah yang dapat dianggap mewakili tradisi keilmuan
pesantren. Dalam karya-karyanya Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memperlihatkan
konseistensinya terhadap bangunan epistemologi pemikiran Islam dalam tradisi
ulama pesantren. Bangunan epistemologi dimaksud berakar pada pemikiran Ahl
al-Sunnah wa al-Jamaah yang selalu berusaha mencari jalan tengah antara ekstrem
naqli (dogmatis-tekstualis) di satu sisi yang lain. Demikian halnya penerimaan
keabsahan empat madzhab dalam fiqh (hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) yang
memiliki spektrum berbeda-beda itu semakin melengkapi watak inklusivisme
pemikirannya.
Risalah Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah dan kitab-kitab lain
karya Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, lebih merupakan ekspentasi tentang
paham Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah berikut argumentasi-argumentasi tentang
keabsahan pemahaman tersebut. Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari menggunakan
ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil dan hadizt-hadizt sebagai penjelasan
argumentasi-arguentasinya. Secara sekilas, pandangan Hadratus Syaikh Kyai
Hasyim Asy’ari tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah mencerminkan corak
metodologi konvensional yang digunakan oleh para teolog (mutakallimin) Muslim
pada era klasik. Corak metodologi yang dimaksud bercirikan hal-hal sebagai
berikut menurut identifikasi yang dilakukan Fazlurrahman : (1) bertujuan
menetapkan akidaah “aliran yang selamat” (al-firqah an-najiyah) melawan aliran
sesat; (2) menjelaskan perbedaan di antara berbagai aliran; (3) menjelaskan
pendapat orang-orang Islam dan perbedaan di antara mereka yang shalat; (4)
menyajikan akidah berbagai aliran kaum muslimin dan orang-orang musyrik; (5)
mengikuti kaidah-kaidah golongan salaf secara konsisten; mengutamakan at-tiba’
(kepengikutan terhadap kaum terdahulu) tanpa pengembangan (al-ibda’); dan (6)
menghimpun kandungan buku-buku klasik yang berserakan. Namun jika dianalissis
lebih dalam, pandangan teologi Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari melampaui
identifikasi tersebut.
Melalui karya-karyanya Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari memberikan
argumentasi tekstual dan rasional mengenai kebenaran akidah Ahl-Sunnah wa
al-Jama’ah, namun pada bagian lain juga menyinggung koridor perbedaan (majal
al-ikhtilaf) yang dimunginkan dalam bingkai akidah yang diklaim benar tersebut.
Beliau juga berusaha mengidentifikasi aliran-aliran yang dinilai sesat, ahli
bid’ah dan mereka yang tergelincir pada kefasikan,kekufuran dan kemusyrikan. Pendapat-pendapat
Beliau juga seringkali merujuk kepada pemikiran dan “sunnah” generasi yang
beliau menyebutnya salafuna al-shalih (generasi pendahulu kita yang salih). Namun
kepengikutannya tidak bersifat serta merta atau absolut, tanpa pengembangan (ibda’).
Jika ibda berarti keluar dari metodologi yang terdahulu tanpa terikat
sedikitpun dengan pokok persoalannya, maka ibtida’ mengandaikan pengembangan
dan pembaruan landaan metodologi yang terdahulu; ibda’ berarti memutuskan
hubungan dengan masalalu tanpa kesinambungan, sedangan ibtida’ berkesinambungan
tanpa keterputusan.
Demikianlah Hadratus Syaikh
Kyai Hasyim Asy’ari membangun pandangannya tentang Ahl-Sunnah wa al-Jama’ah. Karyanya
Risalah Ahl-Sunnah wa al-Jama’ah tidak hanya menyajikan tema-tema klasik yang
menggambarkan struktur keilmuan kalam yang biasa dipakai oleh para mutakallimin
era klasik, tetapi juga mulai memasukkan tema-tema historis yang bersifat lokal
dan sangat partiklar. Dalam konteks ini Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari
melalui karyanya tersebut “menghadirkan citra dirinya sebagai Kyai pesantren
Jawa yang berupaya melakukan sintesis antara tradisi lokal dengan berbagai
varian di dalmnya dan elemen-elemen islam. Bagi Hadratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari,
sintesis itu adalah satu kebutuhan, mengingat “prinsip-prinsip islam tidaklah
bertentangan dengan praktek-praktek lokal sepanjang perpaduannya memiliki
landasan dan tujuan religius”.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Muhibbin Zuhri,
2010. Pemikiran KH. M. HASYIM ASY’ARI tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.
Surabaya: Khalista
mutiaizzatun27
mutiaizzatun27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar